oleh

Pengembangan Kawasan Borobudur, Ganjar Minta Tidak Abaikan Masyarakat Lokal

INILAHONLINE.COM, SEMARANG

Kawasan Borobudur menjadi satu dari empat destinasi wisata superprioritas nasional yang digarap serius oleh pemerintah pusat. Berbagai persiapan sudah dilakukan untuk menjadikan kawasan yang terletak di Magelang, Jawa Tengah itu menjadi destinasi wisata unggulan tingkat dunia.

Pemerintah bahkan sudah membentuk tim khusus untuk pengembangan Kawasan Borobudur yang melibatkan sejumlah instansi terkait, baik kementerian maupun daerah. Jumat (1/3), Tim Pelaksana Program Pengembangan Pariwisata Terintegrasi dan Berkelanjutan (P3TB) itu bertemu dengan Gubernur Jawa Tenhgah, Ganjar Pranowo untuk memaparkan sejumlah hal terkait masterplan pengembangan kawasan Borobudur.

Ganjar menyambut baik kerja tim terkait pengembangan kawasan Borobudur. Kepada tim tersebut, Ganjar berpesan agar tidak mengabaikan peran masyarakat lokal sebagai penunjang utama pariwisata.

“Pembentukan kawasan pariwisata tidak cukup hanya menyiapkan infrastruktur saja. Keterlibatan dan kesiapan sumber daya manusia (SDM) yakni masyarakat lokal harus didorong, karena itu juga sangat penting untuk menyukseskan pariwisata,” kata Ganjar.

Ganjar menerangkan, sebagus apapun destinasi pariwisata, jika masyarakat sekitar tidak memiliki kemampuan untuk mendukung maka tidak akan berhasil. Contoh yang paling sederhana adalah bagaimana merubah perilaku masyarakat setempat terkait kebersihan lingkungan, cara melayani wisatawan, cara menjual produk berkualitas dan sebagainya.

“Untuk itu saya berpesan agar dalam tim ini juga melibatkan sosiolog atau antropolog untuk merubah sikap dan pola pikir masyarakat. Pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat lokal juga harus terus ditingkatkan,” tegasnya.

Ia mencontohkan, banyak masyarakat yang kurang peduli terhadap kebersihan. Akses sanitasi dan lingkungan di beberapa destinasi wisata kurang begitu mendapat perhatian.

Selain itu, cara masyarakat menawarkan produk baik kerajinan ataupun olahan makanan dan minuman tradisional juga masih ala kadarnya. Padahal lanjut dia, seberapapun bagus dan enak produk yang dihasilkan, jika kemasan dan cara menjualnya tidak baik maka tidak akan laku.

“Misalnya ini, ini Lanting makanan khas tradisional. Menurut masyarakat enak, tapi kalau kemasannya seperti ini, ya kurang bagus lah,” ucapnya sambil menunjukkan salah satu produk makanan olahan masyarakat yang ada di ruangannya.

Lebih lanjut Ganjar menerangkan, pihaknya sudah melakukan banyak hal terkait persiapan penataan kawasan Borobudur. Karena kawasan ini menjadi program nasional dalam pengembangan pariwisata, pihaknya mengatakan siap berkolaborasi dengan tim pusat.

“Kami sepenuhnya mendukung, apapun yang dibutuhkan oleh pusat akan kami dukung sepenuhnya,” pungkasnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Pengembangan Regional, Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas) Rudi S Prawira yang memimpin tim saat beraudiensi dengan Ganjar menerangkan, pihaknya terus bekerja untuk mewujudkan kawasan Borobudur menjadi destinasi wisata unggulan.

“Berbagai kegiatan sudah kami lakukan, mulai survey-survey, mendatangkan konsultan dan persiapan lainnya. Saat ini kami sedang membuat masterplan, untuk itu kami datang ke Jawa Tengah ini untuk berkolaborasi dengan pemerintah daerah terkait rencana tersebut,” kata dia.

Pemerintah pusat lanjut dia sudah membentuk tim khusus untuk pengembangan kawasan Borobudur. Meski begitu lanjut dia, keterlibatan tim dari daerah juga sangat penting, mengingat nantinya daerah yang lebih berperan.

“Untuk itu kami berharap di daerah juga ada tim khusus dengan membentuk kelompok kerja (pokja) yang ada. Ternyata tadi disampaikan pak Gubernur, sudah banyak yang dilakukan daerah untuk pengembangan kawasan ini, jadi tinggal disinkronkan saja dengan pusat,” tambahnya.

Ia mengamini pernyataan Ganjar, bahwa penataan kawasan tidak hanya fokus pada penyiapan infrastruktur semata. Namun keterlibatan masyarakat dan penyiapan sumber daya manusia yang mumpuni juga sangat penting.

“Karena pada prinsipnya, pariwisata itu tidak akan bisa berkembang tanpa promosi, infrastruktur pendukung dan SDM yang memadai. Tentu ketiga hal itu akan menjadi fokus kami dalam penataan kawasan Borobudur,” tegasnya.

Rudi menambahkan, proyek penataan kawasan Borobudur tidak hanya dilakukan untuk daerah sekitar candi semata. Proyek ini diharapkan dapat berdampak pula ke kawasan-kawasan wisata yang ada di sekitarnya.

“Khususnya Jogja, Solo dan Semarang (Joglosemar), namun tidak menutup kemungkinan meluas ke daerah lain seperti di Dieng Wonosobo, Purworejo, Klaten, Salatiga dan daerah-daerah lain di sekitarnya,” tutupnya.

(Suparman)

Komentar