oleh

Polres Blora Tangkap Pelaku Pembalakan Liar dan Penganiaayan Mantri Hutan

INILAHONLINE.COM, BLORA

Satuan Reserse Kriminal Polres Blora Polda Jawa Tengah, berhasil mengamankan 3 orang pria yang diduga pelaku pembalakan liar dan penganiayaan mantri hutan yang terjadi Selasa, tanggal 15 Desember 2020. Kejadian tersebut terjadi di dalam kawasan hutan petak 5088 dan 5105 A RPH Sumberejo BKPH Nglebur KPH Cepu turut tanah Desa Bleboh Kecamayan Jiken Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Ketiga tersangka adalah M alias Bulus, (28) warga Kecamatan Bancar Kabupaten Tuban Jawa Timur, MFR, alias Farid (29) warga Kecamatan Bancar Kabupaten Tuban Jawa Timur, serta SP, (42) warga kecamatan Bangilan Kabupaten Tuban Jawa Timur. Ketiga tersangka tersebut di cokok petugas saat berada di wilayah Kecamatan Bangilan dan Kecamatan Jatirogo Kabupaten Tuban Jawa Timur, Senin tanggal 21 Desember 2020 lalu.

Berdasarkan laporan Nyarwoto, (50) salah satu karyawan Perhutani KPH Cepu, bahwa Pada hari Hari Selasa, tanggal 15 Desember 2020 Pkl 23.45 Wib di dalam kawasan hutan petak 5088 dan 5105 A RPH Sumberejo BKPH Nglebur KPH Cepu turut tanah Desa Bleboh Kecamatan Jiken Kabupaten Blora telah terjadi tindak pidana melakukan penebangan pohon di dalam kawasan hutan, tanpa seijin pejabat yang berwenang dan atau pencurian yang disertai dengan kekerasan.

Kapolres Blora AKBP Wiraga Dimas Tama,SIK saat konfrensi pers di Mapolres Blora, Senin, (15/02/2021) mengungkapkan, bahwa pada saat korban sedang bertugas jaga di pos petak 5088 A RPH Sumberejo.

Korban didatangi pelaku dengan mengendari 2 unit truk, yang kemudian pelaku yang berjumlah sekitar 25 orang tersebut berjalan mendatangi pos dimana korban berada dan selanjutnya langsung menyekap korban, dengan disertai ancaman dengan menodongkan sejenis senjata api di kepala dan perut korban agar korban tidak melawan.

“Dalam kejadian ini korban diminta uang yang dibawanya senilai Rp 1.900.000,- dan hanphone jenis VIVO oleh salah satu pelaku, setelah itu korban diikat tangan dan kakinya dengan tali rafia warna hijau, yang kemudian dalam keadaan korban disekap dan dijaga oleh 4 orang pelaku, pelaku yang lain melakukan penebangan pohon di petak 5105 A,” ungkap Kapolres.

Dengan keadaan Mantri tidak berdaya, lanjut Kapolres, pelaku berhasil menebang sebanyak 2 pohon jenis sonokeling ukuran keliling 270 cm sebanyak 1 batang dan ukuran keliling 240 cm sebanyak 1 batang  hingga roboh, yang kemudian diangkut pelaku dengan menggunakan 2 unit truk dan setelah itu korban ditinggal pelaku dalam keadaan terikat.

“Dari kejadian tersebut negara melalui perhutani KPH Cepu mengalamai kerugian sebesar Rp 41.596.000.-  dan korban sendiri mengalami kerugian sebesar Rp 1.900.000,- dan selanjutnya korban melaporkan kejadian tersebut ke Polres Blora” ucap Kapolres Blora.

Dari laporan tersebut Tim Resmob Satreskrim Polres Blora yang dipimpin oleh Kaur Bin Ops Satreskrim Iptu Edi Santosa,SH dan Kanit Resmob Ipda Budi Santoso,SH langsung melakukan penyelidikan hingga akhirnya berhasil mengamankan 3 orang tersangka. “Kita berhasil amankan 3 orang tersangka, dan pelaku lainnya masih dalam penyelidikan,” tandas Kapolres Blora.

Sementarav barang bukti yang diamankan berupa tali rafia untuk mengikat korban, 1 unit truk No.Pol H 9613 AE warna kuning, 1 buah pedang panjang ± 70 cm, 3 buah hanphone milik tersangka, 2 batang kayu sonokeling sisa cabang 2 pohon yang ditebang pelaku, 2 buah sepatu boot milik korban, 1 buah tas warna hitam milik korban, 1 buah botol air mineral beisii oli dan 2 buah botol air minum.

“Atas perbuatannya pelaku dijerat Pasal 12 huruf b Jo Pasal 82 ayat 1 huruf b UU RI no 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan dan atau pencurian dg kekerasan pasal 365 KUHP dengan ancaman maksimal 12 tahun penjara,” tambah Kapolres.

Para pelaku terbilang nekat, secara berkelompok sekitar 25 orang masuk ke dalam hutan RPH Sumbrejo BKPH Nglebur KPH Cepu turut tanah Desa  Bleboh Kecamatan Jiken kabupaten  Blora dengan 2 unit truk, dengan membawa peralatan berupa pedang, parang dan 2 pelaku membawa sejenis senjata api jenis FN (senjata api asli atau softgun masih dalam penyelidikan) yang s
masuk melumpuhkan anggota perhutani, yang sedang tugas jaga di Pos hutan, menyekap serta melakukan kekerasan terhadap petugas mantri polisi yang jaga. (Suparman)

Komentar