Revitalisasi Pasar Johar untuk Hidupkan Romantisme Alun-Alun Kota Semarang

INILAHONLINE.COM, SEMARANG – Upaya revitalisasi Pasar Johar pasca terkena musibah kebakaran pada tanggal 9 Mei 2015, bakal dihidupkan kembali romantisme alun-alun Kota Semarang di kawasan Kauman yang telah lama hilang.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi berupaya menghidupkan kembali romantisme tersebut, sehingga tidak tanggung-tanggung akan dukucurkan dana sebesar 100 milyar, untuk membangun kembali alun-alun Kota Semarang dalam dua tahap.

”Untuk pembangunan tahap pertama, dana sebesar 50 milyar akan digunakan salah satunya, untuk pemasangan 700 tiang pancang di area lahan seluas 9,184 meter persegi, berdekatan dengan Masjid Agung Kauman Semarang,”ujar Hendi di Semarang, Rabu (22/8/2018).

Ia menjelaskan, kenapa hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1439 Hijriyah pun dipilih, sebagai hari dimulainya pembangunan tahap I alun-alun Kota Semarang. Karena jika proses pembangunan alun-alun Semarang menjadi representasi, dari semangat berkorban yang terkandung dalam perayaan Idul Adha.

”Kalau pedagang yang tidak terdampak becana tidak mau berkorban, untuk sementara direlokasi juga guna percepatan pembangunan, maka pasti alun-alun ini tidak akan terbangun sebagai satu kesatuan dengan Pasar Johar yang baru nantinya,”tegas Wali Kota yang juga politisi PDI Perjuangan tersebut.

Hendi juga menyebutkan, tidak salah ketika masyarakat ataupun wisatawan menyebutkan, jika alun-alun Kota Semarang berada di Simpang Lima dengan Lapangan Pancasila sebagai pusatnya.

Namun banyak yang belum tahu jika kawasan Simpang Lima, baru menjadi pusat alun-alun Kota Semarang pada tahun 1969 atas usulan dari Presiden Republik Indonesia yang pertama, Ir.Soekarno.

”Jauh sebelum itu Simpang Lima dibangun, pusat alun-alun Kota Semarang adalah berada pada Kawasan Kauman,”paparnya.

Ia menjelaskan, peralihan pusat alun-alun Kota Semarang dari kawasan Kauman ke kawasan Simpang Lima pada masa itu sendiri, dengan mempertimbangkan semakin padatnya aktifitas perbelanjaan di sekitar alun-alum kauman yang luput dari penataan.

”Jadi peningkatan kepadatan aktifitas tersebut terjadi seiring berkembangnya aktifitas perdaganan di Pasar Johar, sebagai pasar tradisional terbesar di Asia Tenggara,”ungkapya.

Hendi, sapaan akrab Wali Kota Semarang menyinggung jika proses pembangunan alun-alun Semarang menjadi representasi dari semangat berkorban yang terkandung dalam perayaan Idul Adha.

”Jadi untuk Pasar Johar yang cagar budaya juga sudah tanda tangan kontrak senilai 146 Milyar, dengan waktu pengerjaan 180 hari. Sedangkan untuk pembangunan Pasar Johar lantai 3 dan 4 akan diselesaikan pada akhir 2019 dengan dana sebesar 37 milyar,”paparnya.

Ditambahkan Hendi, keoptimisannya untuk membawa Pasar Johar kembali merebut predikat sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara dan menjadi destinasi wisata unggulan di Kota Semarang. Pasalnya, desain pembangunan kembali Pasar Johar sendiri telah diakui oleh para perencana kota internasional.

”Pengakuan tersebut didapatkan melalui penetapan desain revitalisasi Pasar Johar , sebagai proyek penataan kota terbaik pada ajang internasional SIP Planning Award di Singapura pada tahun 2017.”

Saat ini, predikat Pasar Terbesar di Asia Tenggara disematkan kepada Pasar JJ di Bangkok, Thailand yang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Thailand.(Suparman)

banner 521x10

Komentar