Fenomena Langka Nan Cantik “Super Blue Blood Moon”, BMKG Minta Masyarakat Waspadai Pasang Air Laut

Nasional366 Dilihat

InilahOnline.com (Jakarta) – Fenomena Super Blue Blood Moon atau Supermoon yang bertepatan dengan Gerhana Bulan Total akan terjadi pada 31 Januari mendatang. Gerhana Bulan Total, yaitu posisi matahari, bumi dan bulan berada pada satu garis lurus. Fenomena yang langka ini akan terulang 100 tahun lagi untuk di Amerika, sementara wilayah Indonesia akan terulang 36 tahun seperti yang pernah terjadi pada 31 Desember 1982 sehingga masyarakat diharapkan dapat melihat atau mengamati fenomena ini dan bukan dijadikan sesuatu yang menakutkan. Kejadian Gerhana Bulan Total dapat diamati di sebagian besar wilayah Indonesia.

Kepala BMKG, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D. mengatakan bahwa pengamatan ini dapat dilihat secara ideal dari daerah perbatasan mulai dari perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur hingga daerah yang berada di sebelah barat Sumatera merupakan zona bulan terbit saat fase gerhana penumbra berlangsung.

Selain itu, lokasi yang ideal untuk mengamati fenomena tersebut di Observatorium Boscha (Lembang), Pulau Seribu, Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, Planetarium, Museum Fatahilah, Kampung Betawi, Satu Babakan, serta Bukit Tinggi.

“Kita melakukan pengamatan di 21 titik pengamatan hilal. Bahkan, di Makasaar dan Jam Gadang Bukit Tinggi pun terdapat event nonton bersama Super Blue Blood Moon,” kata Dwikorita kepada awak media, Senin (29/1/2018).

Kepala BMKG, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D.

Ia mengatakan, meskipun fenomena ini merupakan fenomena langka, namun masyarakat yang berada di pesisir pantai harus mewaspadai akan tingginya pasang air laut maksimun hingga mencapai 1,5 meter karena adanya gravitasi bulan dengan matahari.

“Fenomena ini pun juga dapat mengakibatkan surut minimum mencapai -100-110 cm yang terjadi pada 30 Januari-1 Februari 2018 di Pesisir : Sumatera Utara, Barat, Sumatera Barat, Selatan Lampung, utara Jakarta, utara Jawa Tengah, utara Jawa Timur, dan Kalimantan Barat,” terang Dwikorita.

Dwikorita menambahkan, bahwa tinggi pasang maksimum ini akan berdampak pada terganggunya transportasi di sekitar pelabuhan dan pesisir, aktivitas petani garam dan perikanan darat, serta kegiatan bongkar muat di Pelabuhan.

Keseluruhan proses gerhana dapat diamati di Samudra Pasifik serta bagian Timur Asia, Indonesia, Australia, dan bagian barat laut Amerika.

“Gerhana ini dapat kita amati di bagian barat Asia, Samudra Hindia, bagian timur Afrika, dan bagian timur Eropa pada saat bulan terbit. Masyarakat dapat mengamati puncak Gerhana Bulan Total ini dapat pada Pukul 20:29,8 WIB; 21:29,8 WITA; dan 22:29,8 WIT,” tandas Dwikorita. (Mohammad Iqbal)

banner 521x10

Komentar