
Langkah Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka bertolak menuju Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memastikan penanganan dan pemulihan pascabencana berjalan optimal di lapangan, dengan mengajak perwakilan mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), dinilai sebagai strategi paling halus untuk merangkul dan menundukkan mahasiswa.Gibran dipandang membawa sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan anggaran negara, yakni legitimasi moral.
Hal tersebut disampaikan Direktur Eksekutif NSL Political Consultant and Strategic Campaign, Nasarudin Sili Luli, dalam menanggapi langkah Gibran menuju NTT untuk menjalankan tugas negara sekaligus memastikan penanganan dan pemulihan pascabencana berjalan optimal di lapangan, Kamis, 20 Agustus 2026. Gibran membuka ruang bagi mahasiswa untuk turut mengambil peran khususnya dalam membantu trauma healing para korban di wilayah bencana.
“Pola Gibran dengan mengajak mahasiswa turun ke lokasi bencana NTT adalah strategi menundukkan mahasiswa paling halus. Mereka membawa sesuatu yang tak bisa dibeli anggaran negara, yaitu legitimasi moral,” kata Nasarudin dalam keterangan tertulis, Jumat, 21 Agustus 2026.
Menurutnya, ketika Gibran menerima perwakilan mahasiswa dan kemudian mengajak mereka berkunjung ke NTT, kredibilitas moral tersebut seolah berpindah dan melekat pada citra wakil presiden sebagai sosok yang terbuka terhadap kritik dan aspirasi.
Nasarudin menilai terdapat efek kedua yang lebih dalam dari langkah tersebut.
“Dalam pemikiran kekuasaan, yang paling awet bukan yang menindas perlawanan, melainkan yang merangkulnya hingga perlawanan berhenti merasa sebagai perlawanan,” tuturnya.
Ia menjelaskan, mahasiswa yang semula berada di luar pagar kekuasaan kini justru berkunjung bersama wapres dalam rombongan kerja. Dengan demikian, mahasiswa dapat melihat secara langsung pemerintah dan berbagai program yang sebelumnya mereka kritik.
“Pengawasan dari luar diundang masuk, lalu kehilangan taringnya. Inilah kooptasi dalam bentuk paling sopan, dibungkus sebagai pelibatan,” tegasnya.
Atas dasar itu, Nasarudin mengatakan analisis tersebut kemudian naik ke level filosofis.
Menurutnya, modal politik tidak jatuh dari langit, tetapi diakumulasi melalui kerja, kemudian dikonversi menjadi keuntungan politik.
Wapres Gibran menuju NTT untuk menjalankan tugas negara sekaligus memastikan penanganan dan pemulihan pascabencana berjalan optimal di lapangan.
Gibran membuka ruang bagi mahasiswa untuk turut mengambil peran khususnya dalam membantu trauma healing para korban di wilayah terdampak “Kehadiran fisik adalah modal simbolik, kepercayaan warga adalah modal sosial, dan keduanya bisa ditukar menjadi modal politik saat kontestasi tiba,” ujarnya.
Ia juga mengaitkan fenomena tersebut dengan program “Lapor Mas Wapres”.
“Setiap kunjungan adalah setoran. ‘Lapor Mas Wapres’ adalah mesin yang Morris Fiorina sebut casework, layanan konkret yang melahirkan loyalitas di luar garis partai,” bebernya.
Nasarudin menerangkan, kunjungan Gibran ke NTT juga menyerupai konsep home style yang diperkenalkan yakni cara seorang pejabat menampilkan dirinya sehingga masyarakat percaya bahwa dirinya merupakan bagian dari mereka.
“Hal yang membuat strategi ini sulit dilawan justru legalitasnya. Tak ada pasal yang dilanggar. Konstitusi menempatkan wakil presiden sebagai pembantu presiden, dengan kewenangan yang relatif terbatas dan pasif, tanpa mandat khusus untuk membangun saluran langsung kepada rakyat. Namun di sanalah ekspansinya,” tuturnya.
Ia kemudian membandingkan gaya Gibran dengan lima wakil presiden sebelumnya, mulai dari Try Sutrisno hingga Ma’ruf Amin. Menurutnya, para wapres sebelumnya cenderung memilih peran yang lebih rendah hati atau berfokus pada ranah kebijakan.
“Tak satu pun menjadikan kehadiran di lapangan dan rangkulan mahasiswa sebagai mode utama. Gibran anomali, dan anomali punya sebab,” jelasnya.
Menurut Nasarudin, figur yang kini sibuk di panggung global dan meninggalkan ruang kehadiran domestik kosong merupakan sosok yang dahulu turut mengangkat Gibran.
“Gibran tak pernah menyebut nama, tak pernah menantang. Ia hanya perlahan mengambil alih atribut yang dulu menjadi monopoli orang itu: predikat pemimpin paling merakyat,” tambahnya.
Ia menilai persaingan politik yang paling berbahaya justru dapat berlangsung tanpa deklarasi dan tanpa konfrontasi terbuka, bahkan terjadi dalam lingkar kekuasaan yang sama.
“Persaingan paling berbahaya memang yang berlangsung tanpa deklarasi dan dilakukan dalam rumah yang sama, dengan senjata kehadiran, bukan kritik,” katanya.
“Maka, apa kesimpulannya? Gibran sedang mengumpulkan keuntungan politik dengan mengubah tugas negara menjadi pabrik legitimasi pribadi,” tegas Nasarudin.
Ia menilai Gibran saat ini lebih banyak menyambungkan aspirasi masyarakat dengan program pemerintah tanpa menawarkan visi struktural ataupun pertaruhan politik yang jelas.
“Tanpa visi struktural, tanpa pertaruhan, tanpa lawan yang jelas, ia berisiko hanya menjadi petugas layanan pelanggan yang sangat ramah,” ujarnya.
Nasarudin pun menyimpulkan bahwa Gibran dinilai telah memanen keuntungan politik dengan memperkenalkan diri, mengklaim jasa, serta mengambil posisi yang disukai publik.
“Gibran dinilai telah memanen keuntungan politik dengan memperkenalkan diri, mengklaim jasa, dan mengambil posisi yang disukai publik,” pungkasnya.
(Direktur Eksekutif NSL Political Consultant and Strategic Champaign Nasarudin Sili Luli)
























































Komentar