
I
NILAHONLINE.COM, JAKARTA – Tingkat kepuasan kinerja oemerintahan Prabowo merosot. Hal itu berdasarkan catatan Survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang mencatat angka kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto merosot menjadi 51,1 persen pada Juli 2026.
Menurut Pakar Politik sekaligus Direktur Eksekutif NSL Political Consultant and Strategic Champaign Nasarudin Sili Luli, kemerosotan kepuasan pemerintahan Prabowo dikarenakan strategi mengurangi ekspektasi dan mengelola perhatian publik kurang maksimal.
“Jika tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Prabowo mulai merosot, maka ada kemungkinan bahwa kabar melemahnya pengaruh Prabowo bisa saja merupakan sesuatu yang disebut sebagai Social Construction of Reality (Konstruksi Sosial Realitas,” ujarnya
Lebih lanjut Nasarudin menjelaskan, bahwa aktor politik acap kali secara aktif mengelola dan memanipulasi persepsi publik. Mereka mungkin membiarkan citra mereka terlihat melemah sebagai taktik untuk menurunkan ekspektasi atau mengalihkan perhatian dari isu yang lebih besar.
“Hal ini karena realitas sosial merupakan sesuatu yang diciptakan melalui interaksi sosial, di mana individu dan kelompok secara kolektif membangun pemahaman tentang dunia yang mereka jalani,” jelasnya.
Di dalam sebuah sistem seperti negara, menurut Nasarudin dijelaskan di mana sebuah alur informasi bisa terkena bias, kemungkinan akan adanya penciptaan sebuah realitas sosial yang direkayasa secara otomatis juga hadir.
“Pada saat yang tepat, mereka yang diuntungkan dengan hal ini dapat mengungkapkan kekuatan sebenarnya untuk mengejutkan dan mempengaruhi opini publik,” ujarnya
Lebih jauh Nasrudin mengungkapkan, jika kita mengacu ke pandangan di atas, maka bisa saja narasi “merosotnya kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo” sebetulnya adalah sesuatu yang memang diharapkan dapat tersebar di benak banyak orang.
“Hal ini bisa sangat bermanfaat untuk menciptakan sensasi kesalahpahaman jika nantinya muncul suatu peristiwa yang justru memang sangat dipengaruhi oleh kekuatan politik Prabowo. Menarik, kemudian untuk dipertanyakan, jika skenario ini benar, apakah ini murni strategi dari Prabowo atau justru ada pihak lain?,” katanya.
Menurutnya, mengingat bahwa politik modern sangat bergantung pada bagaimana persepsi dikelola dan dimanipulasi, tidak menutup kemungkinan bahwa strategi ini melibatkan jaringan yang jauh lebih luas, termasuk para loyalis Prabowo.
“Dalam skenario ini, Prabowo bisa saja memiliki peran sentral, menggunakan ilusi merosotnya kepuasan publik terhadap pemerintahannya,pengaruhnya sebagai taktik untuk mengurangi ekspektasi dan mengelola perhatian publik,” paparnya
Nasarudin juga mengatakan, jika demikian, strategi semacam ini tidak hanya memperlihatkan kecerdasan politik Prabowo tetapi juga mengungkap betapa kompleksnya permainan politik di Indonesia, di mana alur informasi dan persepsi publik tidak sesederhana yang kita kira.
“Namun, tidak bisa diabaikan ada kemungkinan bahwa aktor lain, yang bisa saja juga terlibat dalam hal semacam ini”
Jika memang ada orang-orang yang dicurigai jadi operator politik Prabowo, maka bisa saja hal ini pun merupakan sesuatu yang akan menarik untuk ditelisik lebih dalam.
Hal-hal semacam ini lantas membuat pertanyaannya tetap terbuka: apakah Prabowo benar-benar bertindak sendiri, atau ada aliansi dan dinamika kekuasaan yang lebih rumit di balik konstruksi ini? Well, sepertinya tidak akan ada yang tahu.
“Namun, pada akhirnya perlu diingat kembali bahwa ini semua hanyalah asumsi berdasarkan interpretasi belaka. Yang jelas, suatu dinamika politik jarang terjadi dengan alasan yang sederhana, kerap kali, ada intrik politik yang menarik di belakangnya namun tidak disadari banyak orang,” pungkasnya. (PH)
























































Komentar