oleh

Jaya Suprana : Alhamdulillah, Presiden Masih Peduli Nasib Wong Cilik

INILAHONLINE.COM, JAKARTA

Jaya Suprana adalah Presiden Komisaris Jamu Jago Grup (didirikan tahun 1918), terdiri dari PT Industri Jamu Jago, PT DG Farm dan CV Rukun yang bergerak dibidang jamu dan obat-obatan farmasi. Pendiri Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), sebuah lembaga pencatat prestasi superlatif bangsa Indonesia (1990). Kumpulan rekor telah dibukukan dalam buku Rekor-Rekor MURI, yang disunting oleh Aylawati Sarwono dan diberi kata sambutan oleh Presiden RI.

Terkait pagebluk (bencana-Red) Corona Virus Disease 2029 (Covid-19) yang saat ini sedang melanda negeri Indonesia yang hingga Rabu (1/4/2020) pukul 12.00 WIB dengan total 1.677 dan yang meninggal 157 orang, membuat Jaya Suprana angkat bicara.

Menurut Jaya Suprana, yang paling menderita akibat pageblug wabah virus Corona adalah rakyat miskin. Kini Amanat Penderitaan Rakyat sudah berubah menjadi Jeritan Penderitaan Rakyat.

“Syukur Alhamdullilah, Presiden Jokowi pada tanggal 31 Maret 2020 membuktikan kepeduliannya terhadap nasib wong cilik dengan memaklumatkan PERPPU terkait langkah-langkah perlindungan sosial dalam menghadapi dampak Covid-19dengan anggaran Rp.110 Triliun,” tuturnya.

Menurutnya, perlindungan sosial dalam menghadapai Covid-19 ini adalah terdiri dari PKH 10 juta KPM, dibayarkan bulanan mulai April (sehingga bantuan setahun naik 25%), Kartu sembako dinaikkan dari 15,2 juta menjadi 20 juta penerima, dengan manfaat naik dari Rp.150.000 menjadi Rp. 200.000 selama 9 bulan (naik 33 persen), Kartu Prakerja dinaikkan dari 10 menjadi 20 triliun untuk bisa mengcover sekitar 5,6 juta pekerja informal.

“Selain itu perlindungan sosial juga diberikan bantuan kepada pelaku usaha mikro dan kecil. Penerima manfaat mendapat insentif pasca pelatihan Rp 600 ribu, dengan biaya pelatihan Rp 1 juta, Pembebasan biaya listrik 3 bulan untuk 24 juta pelanggan listrik 450VA, dan diskon 50% untuk 7 juta pelanggan 900VA bersubsidi, Tambahan insentif perumahan bagi pembangunan perumahan MBR hingga 175 ribu, dengan anggaran dukungan logistik sembako dan kebutuhan pokok Rp 25 Triliun”, jelas Jaya Suprana.

 

Lebih lanjut, Jaya Suprana mengatakan, atas nama Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan (SPK), dengan penuh kerendahan hati saya memberanikan diri menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan setinggi-tinggina kepada Presiden Jokowi atas kepedulian beliau kepada rakyat miskin. Namun tanpa sedikit pun mengurangi rasa terima kasih dan penghargaan tersebut , terus-terang terselip rasa kuatir di lubuk sanubari saya bahwa niat baik Presiden Jokowi akan menghadapi kendala dalam pewujudan oleh para pelaksana di segenap pelosok Indonesia yang sangat luas dan kompleks-masalah ini.

“Namun saya juga merasa khawatir, seperti biasa cukup banyak dana menguap dalam perjalanan dari pusat ke daerah.Sehingga tidak banyak dana tersisa yang benar-benar sampai ke tangan rakyat yang membutuhkannya,” ujarnya.

Untuk itu, Jaya Suprana menekankan perlu dilakukan pengawalan dan pengawasan terhadap dana triliunan rupiah ini agar digunakan sesuai peruntukan. Karena itum pihaknya mengkhawatirkan terjadinya tradisi pangkas danauntuk membayar “jasa” pihak-pihak yang sama sekali tidak peduli kebutuhan rakyat miskin akibat lebih mengutamakan kebutuhan diri sendiri. Sudah menjadi rahasia umum bahwa tidak semua rakyat miskin memperoleh kartu-kartu kesejahteraan yang memang terbatas jumlahnya maka dibagikan berdasar like-and-dislike oleh yang berwenang membagikannya.

“Jika rakyat tidak pro sang kepala desa yang berkuasa maka kemungkinan kecil memperoleh kartu kesejahteraan. Demi menjamin bahwa segenap dana dan/atau kartuperlindungan sosial dapat secara utuh dan adil sampai ke tangan rakyat yang membutuhkan, memangperlu dibentuk Badan Pengawal Dana Perlindungan Sosial (BPDPS),” tandas Jaya Suprana.

Terkait dengan BPDPS yang sepenuhnya bertanggung-jawab atas pengawalan dana perlindungan sosial agar benar-benar sampai secara utuh ke rakyat miskin sangat membutuhkannya, memang terkesan tidak mudah namun kalau memang mau pasti mampu.“Kalau tidak mampu berarti memang tidak mau,”imbuhnya.

(Piya Hadi)

Komentar