Oleh: Gunoto Saparie

Ada yang akan datang ke Semarang pada September ini. Bukan hanya manusia. Tetapi suara juga.
Suara yang panjang, naik, turun, bergetar, lalu berhenti pada sebuah ayat. Suara yang telah dilatih berbulan-bulan, mungkin bertahun-tahun, agar satu huruf tidak tergelincir, satu harakat tidak keliru, satu tarikan napas tidak sia-sia.
Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI akan berlangsung di Semarang, 11–20 September 2026. Pembukaan dijadwalkan pada 12 September di Lapangan Pancasila, Simpang Lima. Lebih dari dua ribu peserta dari seluruh Indonesia akan datang. Kota ini akan menjadi panggung bagi tilawah, hafalan, tafsir, kaligrafi, dan berbagai cabang yang tumbuh dari satu kitab yang sama.
Satu kitab. Begitu banyak suara. Mungkin di situlah kita bisa mulai berpikir.
Sebab Al-Qur’an adalah teks yang satu, tetapi manusia tidak pernah benar-benar satu ketika membacanya. Kita datang dengan sejarah masing-masing, dengan bahasa ibu masing-masing, dengan pengalaman tentang luka dan bahagia yang berbeda. Ayat yang sama dapat terdengar berbeda ketika keluar dari mulut orang yang berbeda.
Barangkali itu bukan kelemahan. Barangkali itu manusia. Dan bukankah agama selalu berada di antara dua hal itu: sesuatu yang diyakini mutlak, dan manusia yang menafsirkannya dengan segala keterbatasannya?
MTQ adalah sebuah peristiwa yang menarik justru karena paradoks tersebut. Ia adalah lomba.
Tetapi yang dilombakan adalah bacaan kitab suci. Ada juara. Ada nilai. Ada dewan hakim. Ada panggung. Mungkin ada pula tepuk tangan.
Sementara Al-Qur’an, yang dibaca dengan suara paling merdu sekalipun, tidak pernah datang ke dunia untuk menjadi sekadar pertunjukan.
Di sini kita pun berhadapan dengan pertanyaan yang agak mengganggu: apa yang sebenarnya kita rayakan?
Keindahan suara? Kesempurnaan hafalan? Kecakapan manusia? Atau sebuah pesan yang jauh lebih besar daripada semua itu?
Pertanyaan ini tidak bermaksud mengecilkan musabaqah. Sebaliknya. Ia justru ingin mengembalikan musabaqah kepada sesuatu yang mungkin lebih penting daripada musabaqah itu sendiri.
Sebab kita hidup di zaman ketika bentuk sering lebih mudah dirayakan daripada isi.
Kita menyukai bangunan masjid yang megah, tetapi tidak selalu menyukai tetangga yang berbeda. Kita senang mendengar kata rahmah, tetapi tidak selalu mudah memberikan kasih.
Kita mengagumi orang yang hafal banyak ayat, tetapi mungkin lupa bahwa satu ayat tentang keadilan meminta kita berbuat adil bahkan ketika itu merugikan diri sendiri.
Kita bisa sangat fasih membaca kitab. Tetapi membaca kehidupan adalah perkara lain.
Maka ketika ribuan orang berkumpul di Semarang untuk membaca Al-Qur’an, sesungguhnya yang sedang diuji bukan hanya para peserta. Tetapi kita juga. Kita yang mendengarkan. Kita yang menonton. Kita yang menjadi tuan rumah. Kita yang akan memasang spanduk tentang persaudaraan, harmoni, keadaban, dan Indonesia Emas.
Kata-kata itu bagus. Tetapi kata-kata yang terlalu bagus kadang justru perlu dicurigai.
Cahaya Al-Qur’an. Apa artinya cahaya?
Cahaya bukan benda untuk dikagumi. Cahaya membuat sesuatu terlihat. Dan sesuatu yang terlihat belum tentu menyenangkan.
Dengan cahaya, kita dapat melihat debu di sudut ruangan. Retak pada dinding. Wajah yang lelah. Kemiskinan yang selama ini kita lewatkan. Kesepian yang tidak masuk berita. Ketidakadilan yang terlalu biasa sehingga tidak lagi dianggap sebagai ketidakadilan.
Karena itu, jika Al-Qur’an adalah cahaya, kita seharusnya bersiap melihat lebih banyak. Bukan lebih sedikit.
Semarang tahu tentang perjumpaan.
Sejak lama kota ini hidup dari pertemuan. Pelabuhan mempertemukan orang-orang dari tempat yang jauh. Pasar mempertemukan kepentingan. Kampung-kampung menyimpan sejarah percampuran. Berbagai agama, etnis, tradisi, dan kelas sosial bertemu dalam ruang yang tidak selalu rukun, tetapi selalu berusaha menemukan cara untuk hidup bersama.
Harmoni, dengan demikian, bukan keadaan ketika semua orang menyanyi dalam nada yang sama. Harmoni adalah ketika perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.
Bukankah tilawah sendiri demikian?
Ada aturan. Ada tajwid. Ada batas. Tetapi di dalam batas itu terdapat keindahan.
Mungkin bangsa ini pun membutuhkan hal yang sama: kebebasan yang mengenal batas, perbedaan yang mengenal kesantunan, keyakinan yang tidak kehilangan kerendahan hati.
MTQ dapat menjadi kesempatan untuk mengingatnya.
Apalagi peristiwa ini tidak hanya berlangsung di dalam ruang lomba. Ada kegiatan pendukung, termasuk Semarang Halal Fest pada 12–19 September. Produk-produk UMKM akan bertemu dengan para tamu. Pedagang akan berharap. Hotel akan menerima pengunjung. Kendaraan akan bergerak lebih sibuk. Kota akan memperoleh denyut ekonomi yang lain.
Sebuah kitab suci, dengan demikian, secara tidak langsung akan bersentuhan dengan ekonomi kota.
Di sini pun ada pertanyaan. Apakah sebuah perhelatan keagamaan hanya akan menghasilkan kemeriahan? Atau juga menghasilkan keberkahan?
Keduanya tidak selalu sama.
Kemeriahan dapat diukur dengan jumlah lampu, panggung, spanduk, dan pengunjung. Keberkahan lebih sulit.
Ia mungkin hanya terlihat pada pedagang kecil yang pulang membawa uang lebih banyak. Pada warga yang menemukan alasan untuk bangga kepada kotanya. Pada tamu yang merasa diterima. Pada anak muda yang mendengar bacaan Al-Qur’an lalu tertarik membuka mushafnya sendiri.
Keberkahan tidak punya baliho. Ia tidak berfoto. Ia diam-diam tinggal dalam kehidupan.
Maka kita boleh menyambut MTQ dengan gegap gempita. Kita boleh bangga bahwa Semarang dipercaya menjadi tuan rumah. Kita boleh menyaksikan pembukaan di Simpang Lima, menikmati festival, mengunjungi pameran, dan merasakan kota yang beberapa hari menjadi lebih ramai.
Tetapi sesudah suara terakhir berhenti, apa yang tersisa? Itulah pertanyaan yang lebih sulit.
Piala akan dibawa pulang. Peserta akan kembali ke daerah masing-masing. Panggung akan dibongkar. Spanduk akan diturunkan. Lampu akan dipadamkan.
Simpang Lima pun akan kembali menjadi Simpang Lima. Dan Semarang akan kembali kepada dirinya sendiri.
Pada saat itulah kita akan tahu apakah sebuah peristiwa benar-benar meninggalkan sesuatu. Mungkin yang tinggal hanya kenangan. Mungkin juga sebuah perubahan kecil.
Seorang anak yang mulai menghafal. Seorang pedagang yang memperoleh rezeki. Seorang tamu yang menemukan persahabatan. Seorang warga yang menjadi lebih ramah kepada orang yang berbeda.
Atau, barangkali, hanya satu kesadaran sederhana: bahwa membaca Al-Qur’an bukanlah akhir dari perjalanan membaca. Ia adalah permulaan.
Sebab kitab itu tidak meminta kita hanya mendengar suara. Ia meminta kita mendengar makna. Dan makna, pada akhirnya, selalu mencari jalan menuju perbuatan.
September ini, Semarang akan dipenuhi suara. Kita akan mendengar ayat-ayat yang dilagukan dengan indah. Tetapi barangkali yang paling penting bukanlah suara yang naik ke udara. Melainkan sesuatu yang turun ke dalam diri.
Sesuatu yang membuat kita malu ketika berbuat zalim. Sesuatu yang membuat kita berhenti sebelum menyakiti. Sesuatu yang membuat kita mengerti bahwa orang lain, betapapun berbeda, tetap memiliki martabat.
Cahaya tidak pernah berteriak bahwa ia cahaya. Ia hanya menerangi.
Maka biarlah MTQ Nasional XXXI datang ke Semarang bukan sebagai pesta yang sebentar menyala lalu padam. Biarlah ia menjadi cahaya yang lebih sederhana.
Tidak selalu terlihat. Tidak selalu dipuji. Tetapi membuat kita, sedikit demi sedikit, mampu melihat. Termasuk melihat diri kita sendiri. Dan mungkin itulah musabaqah yang sesungguhnya.
Bukan siapa yang paling indah membaca ayat. Melainkan siapa yang, setelah membaca, paling sungguh-sungguh berusaha menjadi ayat yang hidup dalam dunia.
Gunoto Saparie, adalah seorang jurnalis senior (anggota PWI Jateng), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Jawa Tengah
























































Komentar