INILAHONLINE.COM, JEPARA
Pilihan Petinggi/Kepala Desa (Pilpet) serentak di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, kian ganas. Sampai-sampai “ilmu/kekuatan hitam” dikerahkan, guna jatuhkan kompetitor . Seperti dialami Nur Hasan (45 th), salah satu kandidat di Pilpet Desa Pulo Darat, Pecangaan, Jepara. Semua diutarakan blak-blakan pada inilahonline.com
Nur Hasan, pengusaha mebel/kayu ukir khas Jepara kualitas ekspor ini, maju Pilpet karena terpanggil melihat kondisi desa belum merata dalam pembangunan. Beberapa titik desa dibangun seadanya. Malah ada bagian desa sama sekali tak tersentuh pembangunan. Pada hal Dana Desa yang diterima dari Pemerintah Pusat sangat besar nominalnya, ujarnya.
Desa Pulo Darat, Pecanggan, Jepara, terdiri dari dua RW dan 22 RT. Pembangunan yang dilaksanakan Pemerintah Desa dibawah Petinggi Achmad Burnadi (40 th) selama lima tahun terakhir, tidak merata. Hanya RT-RT tertentu yang warganya berpikiran/bersikap kritis pada Kepala Desa, diutamakan pembangunan lingkungannya, kata Nur Hasan.
Kebijakan Petinggi Achmad Burnadi yang juga ikut maju di Pilpet ini sebagai petahana, membuat sebagian warga Desa Pulo darat tidak puas cenderung kecewa. Jika nanti saya terpilih jadi Petinggi, pembangunan akan saya sebarkan merata keseluruh wilayah desa, tandas Nur Hasan dengan raut serius.

Selain itu pelayanan sosial pada warga, akan ditingkatkan maksimal. Saya akan beli ambulan, khusus melayani warga yang membutuhkan disaat mengalami keadaan kritis. Ibu-ibu akan melahirkan di rumah sakit, atau insiden kecelakaan, bahkan jika dibutuhkan untuk angkutan jenasah, bisa memakai ambulans secara gratis, tandasnya.
Pilpet Desa Pulo Darat, diawali pendaftaran calon petinggi 16-24 Juli 2019, dilanjutkan penelitian administrasi para calon dan akhirnya Hari “H” pencoblosan 17 Oktober 2019. Pilpet diperkirakan diikuti dua sampai empat calon, untuk masa jabatan petinggi 2019-2025. Jumlah pemilih/pencoblos lebih dari 4.000 warga.
Yang uniek di Pilpet Desa Pulo Darat. “Sejak hari pendaftaran sampai pencoblosan dan penghitungan suara nanti. Saya puasa tidak tidur malam, guna menghindari “serangan halus kekuatan hitam” dilancarkan pihak tertentu”, tandas Nur Hasan. Jika ia lengah, bisa tumbang misterius.
Dipelataran rumahnya, tiap pagi kerap dijumpai taburan Beras Kuning, media mistis magis yang disebar oknum tertentu untuk mencelakainya. Model serangan macam itu disebutnya klasik dan kuno. Namun jika dirinya lengah, bisa ambruk misterius bahkan nyawanya hijrah ke alam lain, sebelum Hari “H” pencoblosan.
(Heru Christiyono Amari)




























































Komentar