oleh

Sekolah Peduli, Siswa Selamat Berlalu Lintas

INILAHONLINE.COM, BANDUNG – Hanya sekitar 15% siswa di 11 Sekolah (SD dan SMP) Kota Bandung yang memiliki pengetahuan tentang Zona Selamat Sekolah (ZoSS) menurut penelitian Save the Children 2015 . Padahal keberadaan ZoSS selain untuk mencegah terjadinya kecelakaan di sekitar lingkungan sekolah tetapi juga berupaya untuk mendidik anak sedini mungkin untuk taat hukum beretika dan berempati dalam berlalu lintas di jalan serta peduli terhadap lingkungan sekitarnya.

Head of Corporate Planning, PT SOMPO Insurance Indonesia, Mr. Kenichi Sinohara mengatakan, Promosi keselamatan berlalu lintas bagi anak-anak terutama di sekitar sekolah masih belum terasa dampaknya, meski ZoSS telah diinsiasi sejak tahun 2007.

“Selama empat tahun terakhir (2014-2018) Sompo Holding bersama dengan Yayasan Sayangi Tunas Cilik mitra Save the Children secara konsisten mempromosikan keselamatan anak-anak di jalan raya melalui perbaikan infrastruktur keselamatan di sisi jalan, meningkatkan pengetahuan dan praktik di kalangan siswa, guru dan orang tua siswa di sekolah atau dikenal dengan program SELAMAT” ungkap Mr. Kenichi Sinohara, saat membuka acara ‘Festival Keselamatan Berlalu Lintas untuk Anak’ yang berlangsung di Taman Lalu Lintas Kota Bandung, Rabu (28/2/2018).

Dalam kesempatan yang sama, Central Area Senior Manager Yayasan Sayangi Tunas Cilik mitra Save the Children, Noer Pangroso mengatakan, melalui program Sosialisasi dan Edukasi Keselamatan Berlalu Lintas (SELAMAT) yang didukung oleh Sompo Holding, telah dilaksanakan berbagai pelatihan untuk siswa, guru dan orang tua di level sekolah yang bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kota Bandung, Dinas Perhubungan Kota Bandung dan Polrestabes Bandung.

“Setidaknya kini hampir 70% siswa di 15 Sekolah (SD dan SMP) Kota Bandung sudah memiliki pengetahuan tentang ZoSS, selain itu secara praktik lebih dari 65% anak-anak sudah menggunakan helm ketika pergi dan pulang sekolah, dimana sebelumnya tidak mencapai 50%. Selain itu 30 sekolah dampingan program telah memiliki infrastrukur keselamatan berlalu lintas di lingkungan sekolah” kata Noer Pangroso.

Sementara itu, Yuyun Yuningsih, guru SDN Raya Barat kota Bandung mengatakan, dirinya secara konsisten mendampingi murid-muridnya untuk berperilaku selamat berlalu lintas, bahkan melakukan kampanye di depan sekolah. Ia juga turut memfasilitasi sosialisasi keselamatan berlalu lintas kepada orang tua.

“Semua upaya untuk memastikan keselamatan, keamanan, dan kenyamanan murid untuk mencapai cita-cita pendidikannya harus didukung” ungkap Yuyun.

Kayla (11) satu dari 300 anak yang hadir di acara ‘Festival Keselamatan Berlalu Lintas untuk Anak’, juga menyatakan pentingnya keselamatan lalu lintas, ia menyisihkan uang jajannya setiap hari dan menabung secara mandiri untuk membeli helm ukuran anak-anak.

“Helm yang selama ini digunakan terlalu besar, saya ingin helm yang pas di kepala. Jika nanti tabungan saya penuh saya juga ingin membeli helm sendiri”, ujar Kayla.

Kayla mengakui ia terinspirasi dari Rizky, teman sekelasnya untuk membeli helm, Rizky menyatakan pentingnya menggunakan helm “Saya tidak mau kepala saya cedera, karena dikepala saya ada otak” kata Rizky.

Inisatif sekolah-sekolah dampingan adalah cermin bahwa keselamatan berlalu lintas anak-anak bisa dimulai dari kepedulian seluruh warga sekolah. (CJ/Emeralda Aisha)

Komentar