oleh

TANTANGAN, KREATIFITAS DAN PEMBELAJARAN KEKINIAN DI TENGAH-TENGAH PANDEMI COVID-19

Oleh : Ani Rohaeni S.Pd., M.Pd.*)

Semakin meluasnya penyebaran wabah Corona Virus Diseases 2019 (Covid-19) disertai fakta yang bukan hanya isu semata membuat pemerintah dan khususnya pemangku kepentingan serta kebijakan berpikir keras dalam menangani kasus ini. Pemerintah melakukan aturan pembatasan sosial atau social distancing.

Hal ini dikuatkan dengan Undang-Undang Nomor 6 tentang Kekarantinaan Kesehatan dan dipertegas dengan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Presiden Jokowi pun menghimbau untuk bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah. Hal ini berdampak 180 derajat bagi dunia pendidikan mulai dari satuan pendidikan Taman Kanak-Kanak sampai dengan Perguruan Tinggi.

Oleh karena itu, Pimpinan pendidikan harus mengambil keputusan dan kebijakan yang cukup sulit untuk menutup sekolah. Satu-satunya solusi yang bisa dilakukan dalam proses pembelajaran adalah dengan pembelajaran daring (online leraning/online classroom), sehingga sekolah melakukan transisi dari pembelajaran konvensional menjadi pembelajaran kekinian yaitu online leraning/online classroom.

Kebijakan ini membuat para guru dan siswa seakan-akan dikejutkan dan disadarkan dengan realita pembelajaran yang mau tidak mau harus dijalani. Baik guru mau siswa tidak semua familiar atau terbiasa dengan pembelajaran daring dan bagaimana melakukannya. Kondisi ini memaksa lembaga- lembaga pendidikan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki baik guru maupun infrastruktur terkait dengan perangkat pembelajaran daring. Guru dan siswa harus sudah mulai beradaptasi dengan pembelajaran kekinian.

 

Hal ini menjadi tantangan bagi guru dan siswa sekaligus menciptakan kreatifitas dalam pembelajaran dan belajar. Selama ini pembelajaran daring perkembangannya tidak secepat pembelajaran di kelas meskipun pemerintah dan stake holders sebelumnya sudah mensosialisasikan tentang pembelajaran daring. Ini disebabkan karena yang diperlukan dalam pembelajaran daring adalah kemampuan teknologi yaitu penggunaan perangkat komputer dan gadget, sehingga saat ini pembelajaran daring hanya dilakukan oleh guru-guru yang mampu di bidang teknologi saja.

Sebagian besar pendidik masih belum terbiasa dengan pembelajaran daring. Masalah mendasar adalah pembelajaran konvensional lebih disukai karena tantangannya lebih mudah. Sekolah-sekolah dalam kondisi seperti ini, tidak mau kehilangan langkah dan mengabaikan pembelajaran. Kebijakan sekolah di bidang akademik memaksa semua guru dan siswa untuk memiliki budaya belajar mandiri dan kebiasaan untuk belajar melalui komputer atau gadget.

Tantangan, ya itulah kata pertama yang tepat bagi guru, siswa dan orang tua. Guru harus mampu merancang atau mendesain pembelajaran daring yang ringan dan efektif dengan menggunakan segenap kemampuan teknologinya. Guru dituntut mampu beradaptasi dan menguasai berbagai aplikasi dengan mengeluarkan segenap kemampuan teknologinya dan dalam kenyataannya tidaklah mudah.

Begitu pula siswa tertantang untuk terbiasa dalam pembelajaran on line dengan penuh kedisipilan dan fasilitas yang memadai. Bagi siswa SMP dan SMA mungkin lebih cepat beradaptasi dengan pembelajaran kekinian tapi bagi anak-anak TK dan SD masih perlu bantuan dan pendampingan orang tua sehingga para orang tua diminta terlibat dalam pembelajaran daring.

Tantangan lain dan sekaligus juga merupakan kendala pada siswa yang ditemukan sampai dengan saat ini antara lain bagi siswa yang berekonomi lemah memiliki quota internet yang cukup setiap hari belajarnya tentunya bukan sesuatu yang mudah, apalagi bagi siswa yang selama ini bisa pergi ke sekolah saja sudah bersyukur. Selain itu sulitnya mendapatkan akses internet, komputer atau gadget yang dimiliki tidak memadai, kondisi mati lampu ketika dilaksanakan tes atau ujian, kurang disiplin dalam mengikuti pembelajaran atau tes daring merupakan kendala-kendala yang umum ditemukan.

Tantangan lain dari pihak orang tua adalah kurangnya dukungan orang tua karena latar belakang pendidikan orang tua yang rendah dan ekonomi lemah. Dalam hal ini perlu adanya sosialisasi kepada orang tua siswa tentang manfaat dan perlunya pembelajaran daring bagi putra-putrinya di tengah-tengah situasi pandemic Corona.

Kendala-kendala diatas hanya sebagian kecil yang kita temukan dan tentunya harus diantisipasi oleh pemangku kebijakan dan pemerhati pendidikan. Memiliki Kreatifitas, ya itu kata kedua yang harus dilakukan guru, bagaimana guru mendesain pembelajaran yang menarik dengan memanfaatkan perangkat, media atau aplikasi daring yang tepat dan sesuai dengan materi atau kompetensi dasar yang ingin dicapai.

Guru harus mampu mengeksploitasi materi pembelajaran, cakupan materi, metode pembelajaran bahkan harus memiliki kreatifitas dalam berkomunikasi dengan siswa dan juga dengan orang tua siswa yang menjadi pendukung utama dalam belajar siswa di rumah. Pembelajaran daring dalam skala besar ini merupakan sesuatu yang pertama kali terjadi pada bangsa kita.

Pantauan dan evaluasi dari satuan pendidikan dan pemerintah perlu dijalankan secara optimal supaya terpenuhi ketercapaian tujuan pembelajaran. Untuk memonitor pembelajaran daring, sebaiknya dibuat monitoring dan evaluasi oleh pemangku kebijakan secara teratur agar pembelajaran daring terpantau, terkontrol dan sesuai dengan indikator ketercapaian sehingga meminimalisir keluhan-keluhan dan kendala dalam pelaksanaan pembelajaran daring.

Untuk meningkatkan kemampuan teknologi dalam pembelajaran daring, sebaiknya guru dibekali pelatihan-pelatihan dan pengenalan berbagai alternatif aplikasi pembelajaran on line, yakni dengan memfasilitasi para guru dengan memberikan quota internet adalah salah satu upaya mengantisipasi kendala dalam pelaksanaan PBM yang bisa diberikan oleh satuan pendidikan.

Komunikasi antara siswa, guru, wali kelas, guru BK dan orang tua sangat diperlukan mengatasi kendala-kendala pada pembelajaran daring. Berbagai pembelajaran daring yang lakukan oleh guru-guru selama ini antara lain menggunakan Whatsapp Group, Google Classroom, Edmondo, Padlet, Quizzi, Zoom Cloud, Skype, Quipper dan lain-lain.

Banyak dinamika yang ditemukan dalam pembelajaran daring tetapi hal tersebut jangan sampai menyurutkan semangat guru dan siswa dalam pembelajaran jarak jauh selama pandemik Corona. Karena solusi ini merupakan solusi yang tepat yang dilakukan dalam dunia pendidikan di tengah- tengan pandemic Corona dan pemberlakuan social distancing. Covid-19 telah mengubah dunia pendidikan kita dari konvensional yaitu pembelajaran tatap muka menjadi platform pembelajaran on line.

Tantangan bukan halangan bagi guru dan siswa untuk belajar dan berkarya. Kreatifitas merupakan kunci sukses seorang guru untuk dapat memotivasi siswa untuk tetap semangat dalam belajar on line di rumah. [ ]

*)Penulis adalah seorang guru di SMAN 2 Cibinong, Bogor.

Komentar