oleh

IPW Apresiasi Sikap Tegas Polri Lakukan Tembak Ditempat Terhadap Pelaku Kejahatan

INILAHONLINE.COM, JAKARTA

Indonesian Police Watch (IPW) mengapresiasi sikap tegas jajaran kepolisian yang melakukan tembak di tempat terhadap para pelaku kejahatan. Hal ini patut diapresiasi, karena akhir akhir ini penjahat makin sadis. Demikian dikatakan Ketua IPW, Neta S Pane di Jakarta.

“Namun dalam melakukan aksi tembak ditempat, jajaran Polri harus satndar operasional prosedur (SOP) yakni dengan misi melumpuhkan,” katanya melalui siaran pers yang dikirm ke inilahonline.com, Rabu (22/4/2020)

Menurutnya, dari pantauan IPW sejak Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) melepaskan 30.432 narapidana dengan alasan wabah Corona, aksi kejahatan di Indonesia, khususnya Jakarta makin sadis dan brutal. Para pejahat tidak sungkan sungkan menclurit korbannya atau membuat korbannya tersungkur di jalanan saat tasnya dijambret. Selain itu, para pejahat nekat hendak membacok polisi yang berusaha menangkapnya. Bahkan ada begal yang berusaha menclurit polisi, meski polisi sudah menembaknya.

“Untuk menghadapi para penjahat yang bersikap nekat belakangan ini, jajaran kepolisian sepertinya perlu meningkatkan profesionalismenya agar makin terlatih, baik secara fisik maupun saat menembak pelaku kejahatan”, kata Neta Pane

 

Lebih lanjut Neta Pane mengatakan, polisi yang terlatih diperlukan agar taat SOP. Dengan sikap profesional dan terlatih, diharapkan setiap anggota polisi akan mampu melumpuhkan penjahat yang bersikap nekad, sehingga Polri tidak dituding sebagai algojo yang mengeksekusi mati para penjahat di jalanan.

“Sikap tegas harus dilakukan polisi terhadap pelaku kejahatan, termasuk melakukan tembak di tempat, tapi harus tetap patuh pada SOP,” tandasnya.

IPW menyesalkan sikap Menkumham yang membebaskan 30.432 napi tanpa berkonsultasi lebih dulu dengan Polri. Bahkan ketika kejahatan marak setelah napi itu dibebaskan, Menkumham cuek bebek dan seperti tidak merasa malu atas ulahnya. Seharusnya Menkumham minta maaf kepada Polri dan masyarakat, kemudian mundur dari jabatannya.

“Diluar negeri, jika pejabat yang membuat kesalahan fatal tidak hanya mundur dari jabatannya, tapi juga ada yang bunuh diri karena menanggung malu,” ujar Neta Pane yang juga mantan wartawan tersebut.

Memang, dari 30.432 napi yang dibebaskan baru 28 yang ditangkap berulah kembali, dengan membuat kejahatan baru. Namun ulah mereka yang sadis itu sudah menjadi inspirasi bagi para penjahat lain untuk “bangun” melakukan aksi pembegalan, penjamberatan, perampokan mini market dan aksi kejahatan lain yang menggunakan clurit dan sadis.

“Bagaimanapun semua ini tidak bisa dilepaskan dari tanggungjawab seorang Menkumham yang melepaskan 30.432 napi, sehingga Polri dan masyarakat yang menanggung bebannya di tengah masih maraknya wabah Corona,” imbuhnya.

(Piya Hadi)

Komentar